Lainnya

Menilik Makna Iklan Sirup Marjan

Saya tidak ingin sok bijak. Karena itu, iklan paling berkesan saat Ramadan adalah iklan sirup.

Bahkan keadaan ini menjadi meme. Bila sirup-sirup sudah mulai bermunculan di toko, itu pertanda Ramadan sudah dekat. Dan bila iklan-iklan sirup mulai masif ditayangkan di televisi, itu pertanda sebentar lagi waktu buka puasa. Dan yang paling merajai itu adalah Marjan.

Dalam Laporan Tirto, iklan Marjan memiliki rekor tayang lebih dari 1200 kali selama seminggu. Ini melebih iklan-iklan lain yang paling banyak hanya 800-900 kali seminggu.

Iklan Marjan pun memiliki pesan yang unik dan berbeda tiap tahunnya. 

Pada tahun 2015, iklan sirup ini mengisahkan bakat terpendam seorang pemain takrau perempuan. Yang unik adalah takrau umumnya dimainkan oleh laki-laki, meski kini sudah ada cabang untuk perempuan. Pemain takrau perempuan ini menjadi penentu kemenangan meski awalnya diremehkan oleh khalayal ramai.

Keberpihakan Marjan untuk membela perempuan itu kembali terlihat pada iklannya tahun 2016. Marjan melawan steorotipe perempuan tidak bisa bersaing dengan laki-laki. Kali ini lewat lomba bedug. Ada 2 tim yang beraksi yaitu laki laki dan perempuan. Pada aksi pertama, tim laki-laki unjuk gigi yang akhirnya membuat para perempuan kagum. Namun pada iklan lanjutannha, tim perempuan mengeluarkan kebolehannya lewat permainan drumband. Tim laki-laki pun dibalas terkagum-kagum.

Tahun-tahun selanjutnya 2017, 2018, dan 2019, Marjan juga berusaha menunjukkan kreativitasnya dengan tema-tema Tari Betawi & Sepatu Roda, Robot Golek, hingga kelahiran Timun Mas. Kesemuanya mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat.

Bagaimana dengan tahun 2020?

Marjan mengambil tema cerita tentang kutukan yang dialami Lurung Kasarung dan Purbasari.

Sang Raja yang juga ayah dari Purbasari memilihnya untuk menjadi penerus tahta kerajaan.  Semua orang bersukacita. Namun, ada satu yang tak terima, yaitu kakaknya, Purbararang. Purbararang pun datang bersama penyihir dan mengutuk Purbasari menjadi buruk rupa. Purbasari kemudian melarikan diri ke hutan.

Di hutan ia bertemu Lutung Kasarung yang juga buah dari kutukan. Di hutan pun ia menyadari tentang berkah yang tak terduga, blessing in disguise, berupa kekuatan komunikasi dan menggerakkan pepohonan.

Sekilas, kita mengira apa sih hubungannya iklan ini dengan Ramadan? Apa benang merahnya?

Saya melihat ada dua hal penting di sana. Pertama, soal di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Purbasari dikutuk, menderita, namun ternyata ia justru mendapat kekuatan. Boleh jadi kita memandang lapar dan haus sebagai penderitaan, namun nilai itu membuat kita jadi memiliki kekuatan berbagi kepada sesama. 

Kedua, soal ketulusan. Saya jadi ingat kata Habib Jafar, puasa itu menahan diri mengambil hak yang seharusnya milik kita demi kemaslahatan yang lebih besar. Menahan juga berarti ketulusan dalam memberikan banyak hal tanpa pamrih.

Ah, padahal saya tadi janji nggak mau sok bijak. Tapi kok malah membahas kebijakan dari sebuah iklan?

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *